Tampilkan postingan dengan label Tempo-Grafiti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempo-Grafiti. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2015

Jual Buku "Kesusastraan dan Kekuasaan" karya Goenawan Mohamad - Harga: 50.0000


Judul: Kesusastraan dan Kekuasaan – kumpulan esai

Karya: Goenawan Mohamad

Penerbit: Pustaka Firdaus, 2003



Harga: 50.0000



Akhir-akhir ini perdebatan tentang kesusastaan dan politik, kesusastraan dan kekuasaan mendapat perhatian lagi. Khususnya yang menyangkut kejadian dan keadaan di Indonesia di tahun 1960-an ketika sebuah polemik sengit berlangsung: di satu pihak berdiri seniman dan cendekiawan yang bergabung dalam Lekra, yang besemboyan “Politik Panglima Seniman”, dan di pihak lain berdiri seniman dan cendekiawan yang menampik semboyan itu, dan menghendaki kemerdekaan kreatif yang tidak tunduk kepada pertimbangan Partai serta kalkulasi kekuasaan.



Polemik tersebut berlangsung cukup ramai, dan boleh dikatakan “ganas” dan menjadikannya sebuah preistiwa yang mungkin tidak kalah penting (dilihat dari luasnya imbas yang terjadi, paling tidak, jika bukan dari isi pikirannya) dengan “Polemik Kebudayaan” yang terjadi di tahun 1930-an.



Peristiwa itu berlangsung 30 tahun yang lalu, dan tak banyak dokumentasi yang tersimpan dan dapat dibaca kembali. Maka buku ini menjadi penting, merupakan kesaksisan dari orang yang terlibat langsung dalam pegumulan itu.



Kumpulan karangan ini bermanfaat bagi pemerhati sastra, terutama generasi yang lebih muda, setidaknya untuk menelaah kembali satu bagian dari pengalaman kesusastaraan dan kesaksian Indonesia ketika harus bertautan dengan satu soal yang sampai sekarang kita hadapi: soal kekuasaan, soal negara, soal politik.

Jual Buku "Debu, Duka, Dsb – Sebuah Pertimbangan Anti-Theodise" karya Goenawan Mohamad - Harga: 50.000


Judul: Debu, Duka, Dsb – Sebuah Pertimbangan Anti-Theodise

Karya: Goenawan Mohamad

Penerbit: Grafiti-Tempo, 2011

Harga: 50.000




Naskah ini dimulai satu setengah tahun setelah tsunami menghantam Aceh dan beberapa tempat lain di sekitar Lautan Hindia. Naskah ini saya tutup 26 Desember 2010, persis enam tahun setelah malapetaka itu.



Seperti ketika tsunami menghancurkan Kota Lisbon di tahun 1755, kejadian yang mengerikan di tahun 2004 itu menyentak perasaan dan pikiran—dan membuat banyak orang bergulat untuk menjelaskan atau mencari penjelasan tentang masalah mala. Usaha itu cenderung melahirkan pelbagai bentuk theodise, yang menegaskan ada hubungan keburukan, kekjian, dan bencana dengan Tuhan dan desainnya yang adil. Kata “theodise” dari theos dan dike, “Tuhan” dan “Keadilan”.



Tapi tentu saja menyinggung “Tuhan” dan “Keadilan” akan segera menyinggung manusia: keyakinanya, keraguannya, hasratnya, pergulatannya, subyektivitasnya, kefanaannya, kemustahilannya, dan anomalinya.



Yang saya tulis ini sebuah renungan tentang itu semua, menyusuri berbagai bacaan, yang saya sebut atau tak saya sebut, yang saya setujui dan saya ragukan, yang saya pinjam atau saya tolak. Bentuknya catatan-catatan yang besambung, meskipun tak dimaksudkan untuk menyatu padu, karena tiap fragmen saya biarkan bisa berkembang ke arah yang berbeda.

Dengan harapan: Anda akan sabar membacanya.


G.M.